Konsep Guru Ideal Menurut Syaikh Al-Zarnuji

KONSEP GURU IDEAL MENURUT SYAIKH AL-ZARNÛJÎ

(Penulis dan Pengarang Kitab Ta’limul Muta’allim Thoriqot Ta’allumi)

Oleh: Ma’mun El Tubany

 

 

Guru memang semestinya dipilih dari sekian banyak orang yang mencalonkan diri, dan diambil yang memenuhi syarat. Inilah guru yang mulia dan pantas sebagai pewaris Nabi. Ditinjau dari tugasnya, seorang guru bukanlah sebatas penyampai materi mata pelajaran ke sana kemari, dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Semestinya kita harus jujur, jika bangsa Indonesia yang saat ini belum bangkit, dan bahkan justru bertambah bebannya adalah sebagai akibat dari mempercayakan guru kepada orang-orang yang bukan semestinya. Sebagaimana Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sebuah haditsnya:

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ( البخاري)

”  Apabila perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat." (HR Al-Bukhari dari Abi Hurairah).

 

Terlebih lagi ini adalah guru yang tugasnya mendidik dan mengajar para manusia, maka sudah menjadi rahasia umum bahwa kualitas pendidik/guruan sangat ditentukan oleh kualitas dan kompetensi seorang guru. Contoh sederhana, kita perlu memahami bahwa jika siswa tidak mahir dalam ilmu matematika misalnya, bukan kemudian hanya menyalahkan 100% para siswanya sulit diajari ilmu matematika, atau referensi yang kurang lengkap, tetapi hal itu bisa jadi disebabkan karena salah dalam memilih guru, karena dia bukan bidangnya.

 

Adapun kendala utama pada seorang guru dilapangan adalah mentalnya yang belum siap untuk dijadikan suri tauladan karena masih banyak guru yang korupsi, tidak hanya materi yang dikorupsi tetapi waktu juga menjadi korban korupsinya. Selain itu, problematika yang sekarang dihadapkan kepada guru yaitu masih banyak guru yang kurang profesional dan tentunya belum dapat dijadikan sebagai guru yang ideal, karena tidak memenuhi syarat sebagai seorang guru yang diharapkan.

 

Syaikh Al Zarnuji adalah pengarang kitab Ta’lim Muta’allim, sebuah kitab yang berisi tentang etika dan adab seseorang ketika mencari ilmu yang sangat populer dikalangan pondok pesantren terutama di pesantren-pesantren tradisional dan juga sering dijadikan sebagai literature dan rujukan para santri untuk sarana mendapatkan ilmu yang bermanfaat baik dunia maupun akhirat.

 

Nama lengkapnya Tajuddin Nu’man bin Ibrahim Az-Zarnuji juga seorang ulama besar dan pengarang yang wafat tahun 640 H / 1242 M. Sedangkan wafatnya Syekh Az-Zarnuji yang salah satu karyanya adalah kitab Ta’lim Muta’allim yaitu sekitar tahun 593 H.

 

Selain membahas tentang etika, kitab Ta’lim Muta’allim juga membahas tentang konsep belajar mengajar yang tidak bisa dilepaskan dari interaksi antara peserta didik dengan guru.

 

A. KONSEP GURU IDEAL DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

     1. Pengertian Guru

Guru (bahasa Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah "berat") adalah seorang pengajar suatu ilmu.

Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik/guru profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Makna secara umum guru adalah pendidik/guru dan pengajar pada pendidik/guruan anak usia dini jalur sekolah atau pendidik/guruan formal, pendidik/guruan dasar, dan pendidik/guruan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Akan tetapi kata guru sebenarnya bukan saja mengandung arti “pengajar”, melainkan juga “pendidik/guru”. Selain itu, arti guru juga didefinisikan seperti yang sudah tidak asing lagi ditelinga yaitu guru sebagai seseorang yang digugu dan ditiru.

    2. Pengertian Guru Menurut Islam

Dalam Islam sendiri, mengartikan guru merupakan profesi yang amat mulia, karena pendidik/guruan adalah salah satu tema sentralnya, Nabi Muhammad sendiri sering disebut sebagai “pendidik/guru kemanusiaan” (educator of mandkind).

Ditinjau dari leteratur kependidik/guruan Islam, seorang guru atau pendidik/guru biasa disebut sebagai berikut :

  1. Ustadz, yaitu julukan untuk orang yang mengajar di madrasah atau pondok pesantren, maksudnya seorang guru dituntut untuk komitmen terhadap profesinya, ia selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model-model atau cara kerjanya sesuai dengan tuntunan zaman.
  2. Mu’allim, berasal dari kata “ ‘ilm ” yang berarti menangkap hakekat sesuatu, ini mengandung makna bahwa guru adalah orang yang dituntut untuk mampu menjelaskan hakekat dalam pengetahuan yang diajarkannya.
  3. Murabbi, berasal dari kata “ rabb ”. Tuhan sebagai Rabb al-‘âlamin dan Rabb al-nâs yakni yang menciptakan, mengatur dan memelihara alam dan seisinya termasuk manusia. Dilihat dari pengertian ini maka guru adalah orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat, dan alam sekitarnya.
  4. Mursyid, yaitu seorang guru yang berusaha menularkan penghayatan (Transinternalisasi) akhlak dan atau kepribadian kepada peserta didiknya.
  5. Mudarris, berasal dari kata “ darasa – yudarusu – darsan wa durusan wadirasatun ” yang berarti terhapus, hilang bekasnya, menghapus, melatih dan mempelajari. Artinya seorang guru adalah yang berusaha mencerdaskan peserta didiknya, menghilangkan ketidaktahuan atau memberantas kebodohan, serta melatih ketrampilan peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya.
  6. Muaddib, berasal dari kata adab, yang berarti moral, etika dan adab. Artinya seorang guru adalah yang beradab sekalugus memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban (civilization) yang berkualitas dimasa depan.

     3. Konsep Guru Ideal Secara Umum

Konsep guru ideal adalah gambaran seorang guru yang diharapkan oleh peserta didik. Seorang guru harus bisa menjadi ideal bagi peserta didiknya dengan memenuhi beberapa kriteria sebagai seorang guru agar dapat dijadikan sebagai qudwa (teladan) bagi peserta didik dan juga dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat dari guru ideal mereka. Untuk menjadi seorang guru yang ideal secara umum haruslah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Syarat utama untuk menjadi seorang guru, yaitu :

  1. Guru harus bertaqwa kepada Allah SWT dan memiliki akhlaq yang baik.
  2. Guru harus berijazah (karena profesi ini perlu legalitas pemerintah)
  3. Guru harus sehat rohani dan jasmani,
  4. Guru haruslah orang yang bertanggung jawab,

 Disamping syarat diatas ada pula kriteria dan ciri-ciri seorang guru yang ideal, diantaranya adalah:

  • Guru dapat komunikasi dengan baik, baik itu komunikasi antar sesama guru, komunikasi dengan siswa, wali siswa, maupun dengan masyarakat sekitar.
  • Guru mampu mengetahui perkembangan siswa, dengan selalu memantau anak didiknya agar dapat mengetahui kelebihan maupun kekurangan siswa, sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhannya dengan baik.
  • Guru mampu mengetahui kebutuhan utama peserta didik sesuai dengan tingkat perkembangannya.
  • Guru mampu bersahabat dan membangun kedekatan dengan siswa dan sekaligus menjadi partner belajar bagi siswa. agar guru mampu mengetahui kesulitan apa saja yang dialami siswa dalam materi pembelajaran.
  • Selalu menjaga wibawa dirinya dan berlaku bijaksana terhadap semua siswa.
  • Guru yang dapat adil dalam mencurahkan kasih sayang kepada siswanya . Anak anak itu adalah makhluk yang unik. masing-masing memiliki karakternya. sehingga perlu bagi guru untuk mengetahui berbagai macam karakter anak didiknya, sehingga guru dapat membagi perhatiannya kepada semua siswa.
  • Guru ideal adalah guru yang selalu diharapkan kehadirannya kepada semua murid.

     4. Konsep Guru Ideal Menurut Islam

Guru memang sosok yang dimuliakan dalam Islam, tetapi kemulian itu akan luntur jika guru tidak mampu menerapkan prinsip-prinsip yang harus dimiliki oleh setiap guru. berikut pandangan para ulama tentang makna guru dengan segenap dimensinya, yaitu :

          a. Pendidik/guru Menurut Syaikh Ahmad Ar Rifai

Dijuluki dengan Muhiyyudin dan Sayyid al-‘arifin (penghulu para ‘arif). Berasal dari Maghribi dan terlahir di Bathaih yang kemudian menjadi tempat tinggalnya.

Syaikh Ahmad Ar Rifai mengungkapkan, bahwa seseorang bisa dianggap sah untuk dijadikan sebagai pendidik/guru dalam pendidik/guruan Islam apabila memenuhi dua kriteria berikut :

a). Alim yaitu mengetahui betul tentang segala ajaran dan syariahnya Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam, sehingga ia akan mampu mentransformasikan ilmu yang komprehenshif tidak setengah-setengah.

b). Adil riwayat yaitu tidak pernah mengerjakan satupun dosa besar dan mengekalkan dosa kecil, seorang pendidik/guru tidak boleh fasiq sebab pendidik/guru tidak hanya bertugas mentransformasikan ilmu kepada anak didiknya namun juga pendidik/guru harus mampu menjadi contoh dan suri tauladan bagi seluruh peserta didiknya. Di khawatirkan ketika seorang pendidik/guru adalah orang fasiq atau orang bodoh, maka bukan hidayah yang diterima anak didik namun justru pemahaman-pemahaman yang keliru yang berujung pada kesesatan

          b. Pendidik/guru Menurut Syaikh Al-Ghazali

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

Menurut al-Ghazali, tugas pendidik/guru yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’la. Karena tujuan pendidik/guruan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Al-Ghazali, dalam kitab Ihya Ulumuddin mengungkapkan “Pendidik/guru itu mengurus tentang hati dan jiwa manusia. Sedangkan makhluk (Allah) yang paling utama di atas bumi adalah manusia. Bagian manusia yang paling utama adalah hatinya. Sedangkan seorang pendidik/guru sibuk memperbaiki, membersihkan, menyempurnakan dan mengarahkan hati agar selalu dekat kepada Allah SWT.

Mengajarkan ilmu itu di satu sisi adalah ibadah kepada Allah Ta’ala. Dan di sisi lain merupakan tugas kekhalifahan Allah. Sebab Allah telah membukakan hati seorang alim untuk menerima suatu pengetahuan yang mana ilmu itu adalah sifat-sifat-Nya yang paling khusus/istimewa. Maka ia adalah seperti penjaga bagi gudang-Nya yang paling elok. Kemudian ia diberi izin untuk membelanjakannya dari padanya kepada setiap orang yang membutuhkannya. Maka derajat mana yang lebih tinggi dari seorang hamba yang menjadi perantara antara Tuhannya yang Maha Suci dengan makhluk-Nya dalam mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dan menggiring mereka menuju surga sebagai tempat tinggal.

Yang mulia dari pekerjaan-pekerjaan yang empat ini adalah memfaidahkan ilmu dan membersihkan jiwa manusia dari perangai tercela dan membinasakan, lalu menunjukkan mereka kepada perangai (akhlak) yang terpuji dan menjadikan bahagia, itulah yang dimaksud pengajaran.

          c. Pendidik/guru Menurut Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun, nama lengkap: Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (lahir 27 Mei 1332/732H, wafat 19 Maret 1406/808H) adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan).

Ibnu Khaldun ada mengungkapkan tiga langkah metode pengajaran:

  1. Hendaklah diajarkan kepada murid pengetahuan yang bersifat umum dan sederhana, khusus berkenaan dengan pokok bahasan yang dipelajari. Pengetahuan ini hendaklah disesuaikan dengan taraf kemampuan intelektual murid, sehingga tidak berada di luar kemampuannya untuk memahami. Hendaklah murid belajar pada tingkatan pertama atau paling sederhana. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun “Ketika itu tercapailah suatu malakah baginya di dalam ilmu itu, meskipun bersifat lemah”. Ibnu Khaldun memandang langkah ini sebagai langkah pendahuluan bagi langkah kedua
  2. Pendidik/guru kembali mengajarkan pengetahuan tersebut kepada anak didiknya dalam taraf yang lebih tinggi dengan memetik intisari pelajaran, keterangan dan penjelasan yang lebih khusus. Dengan demikian pendidik/guru dapat mengantarkan anak didiknya kepada taraf pemahaman yang lebih tinggi, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khaldun “maka menjadi baiklah malakahnya”
  3. Pendidik/guru mengajarkan pokok bahasan tersebut secara lebih terperinci dalam konteks yang menyeluruh, sambil memperdalam aspek-aspeknya dan menajamkan pembahasannya. Tidak ada lagi yang sulit dan penting yang tidak diterangkan. Begitu suatu ilmu selesai dipelajari, maka ilmu itu telah menjadi malakahnya, walau bagaimanapun Ibnu Khaldun mengatakan sebahagian anak didik yang cerdas kadangkala hanya memerlukan dua langkah saja di dalam mengajar mereka, terutama jika pendidik/guru berkemampuan tinggi.

Di sini jelas bahwa pendidik/guruan Islam itu hendaklah diajarkan secara berperingkat. Oleh itu pelajaran yang disediakan haruslah mengambil kira tahap dan kemampuan murid agar setiap pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh murid dengan baik .

         d. Pendidik/guru Menurut KH. Hasyim Asy’ari

Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy'arie (bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari) (10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H)–25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang) adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.

Menurut Hasyim Asya’ri ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang pendidik/guru islam, beberapa hal tersebut adalah adab atau etika bagi alim / para guru. Paling tidak menurut Hasyim Asy’ari ada dua puluh etika yang harus dipunyai oleh guru ataupun calon guru.

  1. Selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah dalam keadaan apapun, bagaimanapun dan dimanapun.
  2. Mempunyai rasa takut kepada Allah, takut atau khouf dalam keadaan apapun baik dalam gerak, diam, perkataan maupun dalam perbuatan.
  3. Mempunyai sikap tenang dalam segala hal.
  4. Berhati-hati atau wara dalam perkataan,maupun dalam perbuatan.
  5. Tawadhu, tawadhu adalah dalam pengertian tidak sombong, dapat juga dikatakan rendah hati.
  6. Selalu berpedoman kepada Hukum Allah dalam segala hal.
  7. Tidak menggunakan ilmunya hanya untuk tujuan duniawi semata.
  8. Tidak rendah diri dihadapan pemuja dunia.
  9. Zuhud, dalam segala hal.
  10. Menghindari pekerjaan yang menjatuhkan martabatnya.
  11. Menghindari tempat –tempat yang dapat menimbulkan maksiat.
  12. Selalu menghidupkan syiar islam.
  13. Menegakkan sunnah Rasul.
  14. Menjaga hal- hal yang sangat di anjurkan.
  15. Bergaul dengan sesama manusia secara ramah,
  16. Menyucikan jiwa.
  17. Terbuka untuk umum, baik saran maupun kritik.
  18. Selalu mengambil ilmu dari orang lain tentang ilmu yang tidak diketahuinya.
  19. Meluangkan waktu untuk menulis atau mengarang buku.

Dengan memiliki dua puluh etika tersebut diharapkan para guru menjadi pendidik/guru yang baik, pendidik/guru yang mampu menjadi teladan anak didik. Di sisi lain, ketika pendidik/guru mempunyai etika, maka yang terdidik pun akan menjadi anak didik yang beretika juga, karena keteladanan mempunyai peran penting dalam mendidik akhlak anak. Untuk itu perlu kiranya para calon pendidik/guru maupun yang telah menjadi pendidik/guru untuk memiliki etika tersebut.

          e. Pendidik/guru Menurut Abu Ishaq Al-Kannani

Abu Ishaq yang dilahirkan pada tahun 1254 adalah seorang pujangga, qadhi dan syaikh di Mesir yang mempunyai pemikiran di bidang pendidik/guruan. Pemikiran pendidik/guruannya diantaranya berhubungan dengan masalah etika. Dalam pandangannya seorang pendidik/guru mempunyai etika terhadap dirinya sendiri, etika terhadap pelajaran yang diembannya, dan etika terhadap muridnya. Etika ini bisa dikembangkan dalam bentuk kode etik pendidik/guruan dalam Islam. 

f. Pendidik/guru Menurut Imam Ibnu Taimiyah

Guru dalam pandangan Ibnu Taimiyah hendaknya memiliki ciri kepribadian seperti Khulafa’, Misi perjuangan nabi dalam bidang pengajaran. Menjadi panutan, Tidak Main-Main, dan Sering Membaca Kitab Suci,

Demikianlah beberapa pandangan mengenai konsep guru ideal dari para tokoh Islam Klasik yang masih penting direnungkan saat ini dan seterusnya[9].

 

 

B. KONSEP GURU IDEAL MENURUT  SYAIKH AL-ZARNÛJÎ

  1. Pemikiran Syaikh al Zarnûjî tentang Konsep Guru Ideal dalam kitab Ta’lim Muta’allim

Dalam mengungkap sifat-sifat pendidik/guru (konsep guru ideal) menurut Az-Zarnuji mengacu pada sumber data primer yaitu, Ta’alimul Muta’alim yang telah dirumuskan oleh Athiyah Al-Abrasi , dan sedikit ditopang dengan literatur lain yang berkaitan dengan masalah pendidik/guru menurut syeikh Az-Zarnuji, secara umum sebagai berikut;

a. Pendidik/guru/guru hendaklah ikhlas dalam melaksanakan tugas, keikhlasan seorang pedidik dalam melaksanakan tugasnya merupakan sarana yang paling ampuh untuk kesuksesan peserta didiknya dalam proses belajar termasuk sikap ikhlas adalah pendidik/guru dalam melaksanakan tugas sesuai yang ia katakan dan sesuai antara perilaku-perilakunya dengan perkataan-perkataan yang diucapkan, dengan hal yang demikian pendidik/guru tidak merasa malu untuk mengatakan saya tidak tahu, apabila ia memang tidak mengetahui.

b. Pendidik/guru harus memiliki sifat Zuhud dalam mengajar karena mencari ridho Allah, pendidik/guru memiliki kedudukan yang mulia dan dimuliakan, pendidik/guru memiliki tugas-tugas yang sesuai dengan kedudukannya, ia harus memiliki atau menjadi Zahid yang sesungguhnya.

c. Pendidik/guru harus suci dan bersih, seorang pendidik/guru hendaknya dalam hal ini suci badan dan anggota tubuhnya selalu terjaga dari perbuatan dosa, suci jiwanya dengan membebaskan diri dari perilaku sombong, riya, dengki, permusuhan, dan sifat tercela dan yang lainnya.

d. Bersifat Wara’ ( menjaga harga diri ), guru haruslah menjaga diri dari segala sesuatu yang berbau syubhat agar tetap terjaga keilmuannya dan kepribadiannya. 

e. Berpengalaman / Lebih tua, guru akan dapat memerankan diri sebagai seorang pemimpin dan pembimbing dalam proses belajar mengajar.

f. Penyabar, guru yang selalu menerima segala bencana dengan laku yang sopan, sabar merupakan pangkal keutamaan dalam segala hal.

g. Pendidik/guru harus memiliki sikap murah hati, seorang pendidik/guru hendaknya bersifat penyantun, pemurah hati terhadap murid-muridnya mampu mengendalikan dirinya dari bersikap marah, bersikap lapang dada dan banyak bersabar.

h. Pendidik/guru hendaknya memiliki adab yang baik, mendahulukan keteladanan dirinya, karena anak didik memperhatikan segala perilaku pendidik/gurunya, telinga mereka pun setia mendengarkan. Apa yang menurut seorang pendidik/guru baik, maka dimata mereka juga dianggap baik.

i. Pendidik/guru memiliki sikap tegas dan terhormat, agar seorang pendidik/guru menjadi lebih sempurna ia harus memiliki sikap yang tegas dan terhormat. Ia harus memiliki keistimewaan-keistimewaan agar ia dapat menjauhkan dirinya dari hal-hal yang jelek tidak membiasakan dirinya berteriak-teriak, dan banyak omong kosong. Dengan demikian, pendidik/guru bukan sekedar gudang teori, tetapi juga seseorang yang ditiru dan diteladani, maka tidak boleh mengalihkan perkataan dan perbuatannya yang menyimpang karena ilmu itu diperoleh dengan pandangan hati.

j. Pendidik/guru harus memiliki sikap kebapaan, seorang pendidik/guru hendaknya menyayangi para muridnya sama dengan menyayangi anak-anaknya, dan memikirkan mereka sama seperti anak-anaknya. Berdasarkan prinsip Islam inilah, pendidikan modern sekarang ditegakkan, sehingga dapat dikatakan bahwa seorang pendidik/guru lebih mencintai peserta didik daripada anak-anaknya.

k. Pendidik/guru memahami karakter murid, pendidik/guru hendaknya menguasai lautan dan memahami karakteristik dan kecenderungan para muridnya termasuk juga kebiasan, perasaan dan pikirannya. Ini dibutuhkan agar pendidik/guru di dalam melaksanakan tugasnya tidak salah arah.

l. Pendidik/guru harus menguasai materi pelajaran, dalam hal ini yang perlu diperhatika oleh pendidik/guru adalah penguasaan materi yang akan diajarkan, dan oleh karena itu, pendidik/guru harus terus menerus belajar. Ini menjadi sangat penting agar didalam proses belajar mengajar dan penyampaian pengajaran tidak terkesan bersifat monoton dan datar-datar saja.

 

Sifat-sifat di atas tersebut, masih dapat ditambah yang secara keseluruhan termasuk sifat yang primer atau mutlak. Sifat tambahan lainnya, seorang pendidik/guru atau guru harus malakukan kerjasama dengan orang tua murid, terutama kepada peserta didik yang kurang mampu menerima materi pelajaran atau kelainan sifat dengan peserta didik yang lainnya.

 

Wallahu a’lam Bish showab