Tujuan Pendidikan Islam

معكم النجاح والتوفيق

 

Tujuan Pendidikan Islam

Ditulis oleh : Kholifatul Aslamiyah

 

 

ka2a

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS.Adz-Dzariyat :56)

 

Seperti ringkasan saya sebelumnya bahwa di muka bumi ini manusia memiliki 2 peranan, yang pertama sebagai Abdullah (Abdi Allah) dimana tanggung jawab nya ialah beribadah hanya pada Allah , sholat tepat waktu, puasa Ramadhan, rawatib, tilawah tahajud, berbakti kepada kedua orang tua, menebar senyum, semua itu ialah peranan kita sebagai Abdi Allah , peranan kedua ialah sebagai Khalifah filardh, pada ringkasan sebelumnya saya menjelaskan bahwa menjadi khalifah filardh bukanlah harus menjadi ilmuwan, atau menjadi pemimpin dalam sebuah lembaga saja, Khalifah filardh adalah menjadi manusia yang mampu bermafaat bagi kehidupan banyak orang, ketika kedua peranan itu mampu kita laksanakan maka terbentuklah Insan Kamil.

Begitu pun kita para guru maupun orang tua di rumah, kita memiliki tugas besar yakni membentuk manusia generasi selanjutnya agar memeliki 2 peranan utama di dunia ini, memanusiakan manusia.

 

Kali ini saya akan meringkas materi yang telah di sampaikan oleh Prof.KH.Didin Hafidhudin yang bertemakan “Tujuan Pendidikan Islam”

1. Menjadi hamba Allah untuk beribadah (ta’abbud)-Nya secara total

Inilah peran kita yang ditakdirkan Allah sebagai pendidik (orang tua/guru), pendidik harus mampu menjadikan peserta didik menjadi hamba Allah  yang taat dalam beribadah secara total.

 

2. Menyadarkan peran manusia sebagai khalifatullah filardh

Allah SWT berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَـكُمْ خَلٰٓئِفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَاۤ اٰتٰٮكُمْ ۗ  اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِ ۖ  وَاِنَّهٗ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di Bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman, dan sungguh Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 165)

Hal ini amatlah penting untuk diterapkan, umat islam harus memiliki prinsip “sama rasa”, bukan “sama rata” salah satu tugas khalifah ialah memakmurkan kehidupan bukan lari dari kehidupan.

Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

3. Menjadikan manusia mampu untuk melaksanakan amanah Allah

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (Al Ahzab : 72)

 

4. Menyadarkan manusia sebagai makhluk yang mulia, berbeda dengan makhluk lainnya

 

5. Mengoptimalkan potensi yang dimiliki manusia sebagai salah satu anugerah dari Allah

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS An-Nahl : 78)

Manusia harus diajarkan untuk bisa selalu mensyukuri hal apapun dalam kehidupannya, Allah  berikan pendengaran, penglihatan dan hati. Maksud kata disini bukan ke dalam bentuk fisiknya seperti telinga, mata. Melainkan fungsinya, Allah memberikan pendengaran kepada manusia, fungsi pendengaran manusia dimulai sejak dalam kandungan (pembahasan terkait pendengaran,penglihatan dan hati Insyaa Allah akan saya bahas di sesi selanjutnya yang akan di sajikan dalam psikologi Islam)

Jika manusia sudah bisa bersyukur, maka dia akan mendapatkan segalanya dalam konteks yang benar.

Ketika kita merasa selalu dalam kekurangan maka hati akan sulit untuk bersyukur

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS As Sajadah : 9)

Yang menjadikan sebuah tantangan dalam dunia pendidikan saat ini adalah, tidak semua manusia mampu untuk bersyukur begitupun peserta didik yang sudah merasa memiliki segalanya dan dipermudah dalam hal apapun sehingga sulit untuk diajak bersyukur.

 

6. Menyadarkan manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki kewajiban pada lingkungan

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qasas : 77)

 

7. Memiliki kemampuan untuk beramal sholeh secara optimal

Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang bermakna, rasa sakit, sedih, bahagia, miskin, kaya, semua itu bermakna dan bisa menjadi amal sholeh bagi kita. Jangan niatkan bekerja hanya untuk mencari nafkah, kerjakan kewajiban maka hak akan kita dapatkan.

 

Salah satu yang menjadi indikator anak sholeh ialah, “mampu mendoakan kedua orang tuanya”, ingatkah bahwa amalan yang tidak terputus salah satunya ialah do’a dari anak yang sholeh? Berarti tugas penting bagi orang tua untuk menjadikan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh karena itulah yang akan menghantarkan perjalanannya menuju singgahsana Allah.

Dalam Islam seingat saya tidak ada perintah untuk mencintai anak kita yang ada adalah “didiklah anakmu”, karena mendidik adalah kewajiban. Rasa cinta hanyalah naluri yang ada dalam hati. Pendidikan bisa dikatakan berhasil jika tumbuh rasa empati pada diri manusia kepada manusia lainnya, dan menumbuhkan empati bukanlah hal mudah.

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS.Al Isra : 84)

 

8. Hal yang paling utama dan mendasar dalam tujuan pendidikan adalah membimbing para peserta didik untuk memilii akhlaq yang mulia dalam segala bidang kehidupan.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)

 “Kelemahan yang masih terjadi ialah kurang adanya kebutuhan akan berdo’a kepada Allah, mari didik manusia untuk berdo’a”