An Unbreakable Loving Bond

an unbreakable loving bond

Ditulis Oleh: Kholifatul Aslamiyah

ka1a

 

 

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. al-Baqarah: 7)

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Baqarah: 20)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra’:39)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, (QS. Yunus: 31)

 

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi maha penyayang, syukur tiada terkira atas limpahan nikmat iman, islam dan juga kesehatan yang selalu Allah berikan di setiap langkah saya, sholawat serta salam kepada Idola saya manusia terbaik di dunia yakni nabi Muhammad saw.

 

Kali ini dengan keterbatasan ilmu, saya ingin sedikit menuliskan tentang makna di balik pendengaran,penglihatan dan hati. Jika kita amati lebih dari 20 kali ayat yang menerangkan tentang pendengaran dan penglihatan, ayat di atas hanyalah sebagian yang saya jabarkan. Dari semua ini, Allah senantiasa menekankan kata pendengaran terlebih dahulu dibandingkan dengan penglihatan. Mengapa demikian?

 

Makna dibalik ayat Al-Qur’an mengedepankan pendengaran sebelum penglihatan ternyata memang betul bahwa panca indera yang pertama kali berfungsi pada manusia ialah pendengaran. hal ini terjadi ketika seorang bayi masih di dalam kandungan ibunya, saat Allah meniupkan ruh, dan saat itulah pendengaran seorang bayi sudah mulai bekerja, oleh karena itu sangat di anjurkan seorang ibu yang sedang mengandung untuk berinteraksi dengan bayi didalam kandungannya, seorang anak dapat dididik sejak masih dalam kandungan, karena selama dalam kandungan, otak dan indra pendengaran anak sudah mulai berkembang, mereka dapat merasakan apa yang terjadi di luar kehidupan mereka, sementara yang mempengaruhi otak dan indera pendengaran bayi di dalam kandungan antara lain emosi dan kejiwaan ibu, rangsangan suara yang terjadi di sekitar ibu.

 

Kita sering mendengar bahwa ibu adalah madrasahtul ula bagi anak-anaknya, hal itu tepat namun dimulai sejak kapan peranan ibu yang sangat penting itu? Apakah sejak anak nya terlahir ke dunia? Tentu bukan hanya pada saat itu, peranan ibu sebagai madrasahtul ula dimulai sejah ruh di tiupkan pada janin, saat pendengaran mulai bekerja, saat itulah seorang ibu harus bisa mengajarkan anaknya tentang ketauhidan, seperti contohnya seorang ibu sering mengaji sambil memegang perutnya, bukan malah mendengarkan musik klasik. Lalu seorang ibu yang selalu mengajak bayi didalam kandungannya belajar setiap hari seperti contoh ibu yang hendak tidur “ayo nak, sebelum tidur kita berdo’a dulu kepada Allah, yuk ikuti ibu ya”, lalu si ibu membaca do’a mau tidur sambil mengelus perut besarnya. Tidak hanya itu, ibu yang hendak makan, lalu mengajak anak dalam perutnya untuk ikut berdo’a, saat itu pendengaran bayi dalam perut berfungsi, sangat penting mengajarkan ketauhidan saat anak masih dalam kandungan, oleh karena itu seorang ibu harus memiliki ketenangan dan kecerdasan dalam mendidik anak, karena peranan yang luar biasa tersebut.

 

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (QS.Al A’rof : 172)

 

Sebagai pengingat bagi kita semua bahwa, jauh sebelum dilahirkan, manusia memiliki janji untuk taat kepada Allah, hanya beribadah kepada Allah. Oleh karena itu mengapa dipentingkan mengajarkan ketauhidan sejak dalam kandungan kepada seorang bayi, inilah tanggung jawab ibu serta ayah nya.

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

“Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

Makna selanjutnya mengenai pendengaran, Maha Besar Allah yang telah memberikan nikmat pendengaran yang tidak pernah tertidur ini, pendengaran berfungsi terlebih dahulu sebelum organ lainnya, berjalan baru dapat dilakukan ketika proses belajar, pendengaran manusia tidak pernah tertidur meskipun manusia itu sedang tertidur, contoh halnya ketika kita memajamkan mata, maka kita tidak akan mampu melihat apapun, tapi suara bising nyamuk yang menganggu dapat kita dengar, selain itu  kita tidak dapat mengatur telinga ketika untuk memilih sesuatu yang ingin kita dengar ataupun tidak, saat sedang berjalan, suara apapun mudah terdengar meski kita tidak melihatnya, penglihatan membutuhkan cahaya untuk dapat melihat segala sesuatu, namun pendengaran siang dan malam, terang dan gelap tetap berfungsi, jika ada manusia yang terganggun pendengarannya, setidaknya dia tetap mendengar suara meski salah menerima komunikasi, dan pada akhir hidup manusia kelak, pendengaran lah yang akan pertama kali berfungsi bahwa semua manusia akan dibangkitkan setelah mendengar panggilan di hari akhir untuk bangkit.

 

Oleh karena itu yang dapat saya simpulkan ialah, senantiasa untuk para ibu luar biasa yang tengah mengandung, mari libatkan janin titipan Allah dalam hal ibadah, karena hal tersebut akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan emosi anak yang akan terlahir, terkait emosi, IQ Insyaa Allah akan saya bahas pada tulisan berikutnya.

 

Pendengaran, penglihatan dan hati. Hati ialah penggerak dari semua perilaku, qolb (hati) dapat tumbuh setelah adanya pengakuan yang dilakukan ruh pada Allah swt, ruh setiap manusia sama, semuanya suci, yang menjadikan kafir atau tetap dalam ketaatan ialah orang tuanya, sungguh besar bukan amanah menjadi orang tua? Masyaa Allah.

Sebelum menutup tulisan saya kali ini, ada sedikit tambahan yang ingin saya tuangkan

 

“Mari sama-sama kita tanyakan pada relung hati terdalam, dari waktu membuka mata (bangun tidur) hingga saat ini (sekarang), di DETIK mana kita melakukan kebaikan dengan ketulusan serta keikhlasan, karena yang tulus yang akan lulus, Insyaa Allah”

“Banyak orang-orang cerdas namun tidak sampai pada Allah, yaitu ketika iman tidak ada di relung hatinya, semoga Allah meningkatkan kadar keimanan serta ketaqwaan kita, aamiin

“Allah, kami tau istiqomah itu sulit, Allah, genggam dan jagalah hati ini, karena sulit rasanya menjaga hati dari kesombongan, dari kesyirikan, dari maksiat lainnya, sungguh kami merasa tidak mampu Istiqomah tanpa Ridho-Mu ya Allah”.

 

Semoga bermanfaat untuk sahabat semua

Jazakumullah khoirun katsiron.